Sumber foto: Kumparan Menkeu Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi RI Capai 5,5 Persen pada 2026
0 kali dilihat
Menteri Keuangan Suahasil Nazara memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada pada kisaran 5,4 hingga 5,5 persen secara tahunan di tengah tekanan ekonomi global akibat konflik geopolitik dan kebijakan moneter ketat di negara maju.
Perkiraan tersebut ditopang oleh kuatnya permintaan domestik, kinerja ekspor yang positif, serta investasi yang terus berjalan melalui proyek hilirisasi dan infrastruktur. Suahasil menjelaskan bahwa konsumsi rumah tangga terbantu oleh stimulus fiskal pemerintah, sementara APBN berfungsi meredam gejolak ekonomi lewat subsidi, kompensasi, perlindungan sosial, dan stabilisasi harga pangan.
“Kalau saya kata-kata bahwa mungkin pertumbuhan masih akan tetap kuat, dukungannya itu dari kegiatan ekonomi domestik, APBN-nya sendiri terus berfungsi sebagai shock absorber, stimulus untuk masyarakat berjalan, stabilisasi harga pangan, harga energi juga kita jalankan selama ini,” kata Suahasil dalam konferensi pers KSSK di Jakarta.
Indikator Domestik Menguat
Kinerja ekonomi dalam negeri juga tercermin dari sejumlah indikator konsumsi dan produksi. Penjualan mobil dan sepeda motor pada September 2026 tercatat tumbuh masing-masing 28,1 persen dan 15,4 persen secara tahunan. Selain itu, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik dari level 52 pada September menjadi 54 pada Oktober 2026 yang menandakan ekspansi manufaktur terus berlanjut.
Di sektor pertanian, Suahasil menilai ketahanan domestik masih cukup baik kendati dibayangi ancaman fenomena El Nino. Ekspor nonmigas Indonesia juga menunjukkan perbaikan berkat dorongan kenaikan harga dan peningkatan permintaan komoditas pasar internasional.
Tantangan Global
Kendati indikator dalam negeri menguat, perekonomian dunia masih menghadapi ketidakpastian. Menurut proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) dalam World Economic Outlook Oktober 2026, pertumbuhan ekonomi global berada di level 3,1 persen pada 2026, sedangkan inflasi global diperkirakan naik menjadi 4,7 persen.
Eskalasi konflik kawasan Timur Tengah memicu kenaikan harga minyak, sementara kebijakan moneter ketat negara maju berisiko menahan laju modal masuk ke negara berkembang. Pemerintah bersama Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi, sembari menunggu rilis resmi data pertumbuhan kuartal III 2026 dari Badan Pusat Statistik.
Artikel ini disusun secara otomatis dengan kecerdasan artifisial berdasarkan sumber yang tercantum, tanpa pemeriksaan redaksi sebelum terbit.