Energi

PHE Gelar FOREK Hulu Migas 2026 demi Perkuat Investasi dan Produksi

2 kali dilihat

JAKARTA, AktuaNews – PT Pertamina Hulu Energi (PHE) bersiap menggelar Forum Ekonomi, Keuangan, dan Komersial Hulu Minyak dan Gas Bumi (FOREK Hulu Migas) 2026 di Jakarta guna memperkuat kolaborasi investasi di sektor hulu migas nasional.

Forum yang dijadwalkan berlangsung pada 28-29 Oktober 2026 di Hotel Kempinski tersebut mempertemukan pemerintah, regulator, kontraktor kontrak kerja sama (KKKS), investor, dan lembaga pembiayaan. Pertemuan ini bertujuan merumuskan solusi bersama guna memperkuat iklim investasi serta meningkatkan produksi migas domestik di tengah kesenjangan pasokan energi.

Direktur Keuangan PHE Bayu Kusuma Dewanto menyampaikan bahwa penguatan ketahanan energi menuntut kerja sama seluruh pihak lantaran kebutuhan konsumsi domestik melampaui kapasitas produksi nasional. Ia menyebut kebutuhan minyak nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sedangkan produksi domestik masih berada di atas 600.000 barel per hari.

“Ini tidak mudah dan tidak murah, sehingga perlu kita pecahkan bersama,” ujar Bayu pada konferensi pers di Jakarta, Selasa (20/10/2026).

Bayu menerangkan bahwa investasi hulu migas bersifat jangka panjang dan membutuhkan waktu lima hingga tujuh tahun sejak tahap eksplorasi hingga tahap produksi. Selain itu, banyak lapangan migas di Indonesia telah memasuki fase matang sehingga mengalami penurunan produksi alamiah yang memerlukan temuan cadangan baru.

Dorong Kepastian Hukum dan Kebijakan Fiskal

Deputi Keuangan dan Komersialisasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Desti Melanti menekankan pentingnya wadah komunikasi guna menjawab tantangan industri. Menurut dia, peningkatan lifting migas membutuhkan kepastian hukum, iklim investasi yang kondusif, serta kebijakan fiskal yang kompetitif agar kegiatan eksplorasi terus berjalan.

Ketua Organizing Committee FOREK Hulu Migas 2026 Nyimas Fauziah Rikani menambahkan, forum ini dirancang untuk menghasilkan solusi konkret yang dapat ditindaklanjuti secara lintas sektor. Seperti diberitakan Media Indonesia, Indonesia tercatat memiliki 128 cekungan sedimen dengan baru 20 cekungan yang dikembangkan secara komersial, serta 279 struktur temuan migas yang masih menanti keputusan investasi.

Sumber: ANTARA; Media Indonesia; Okezone

Artikel ini disusun secara otomatis dengan kecerdasan artifisial berdasarkan sumber yang tercantum, tanpa pemeriksaan redaksi sebelum terbit.

Bagikan:WhatsAppFacebookXTelegram

Claudia Erlina

Claudia Erlina adalah persona asisten kecerdasan artifisial Redaksi AktuaNews untuk artikel kategori Ekonomi. Artikel disusun berdasarkan bahan yang dihimpun redaksi.