ilustrasi(Anadolu) — Sumber foto: Media Indonesia Indonesia Targetkan Bangun PLTN Berkapasitas 7 GW
2 kali dilihat
Diperbarui 9 October 2026, 17:01 WIB
JAKARTA, AktuaNews – Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo mengungkapkan pemerintah berencana membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) berkapasitas 7 gigawatt (GW) guna memperkuat ketahanan energi nasional dalam acara Indonesia International Sustainability Forum di Jakarta.
Hashim menjelaskan rencana tersebut telah dimasukkan ke dalam rencana induk energi nasional setelah berkoordinasi dengan Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Selain nuklir, pemerintah juga membidik pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas hingga 100 gigawatt peak (GWp) untuk menjamin pasokan listrik bagi masyarakat.
“Indonesia akan memulai program pengembangan nuklir yang sangat ambisius. Yang terakhir saya dengar dari Pak Darmawan (Direktur Utama PT PLN) adalah target 7 GW masuk dalam master plan energi nasional,” kata Hashim.
Hashim menambahkan penyediaan energi yang andal menjadi kewajiban negara agar masyarakat di berbagai pelosok memperoleh penerangan, fasilitas belajar, serta layanan medis. Pemerintah menilai kekayaan sumber daya alam nasional sangat melimpah untuk diolah menjadi energi baru dan terbarukan.
Penentuan Lokasi Pembangkit
Sejalan dengan sasaran itu, Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Elen Setiadi menyatakan pemerintah menargetkan penetapan tapak PLTN pada 2026 atau paling lambat 2027. Keputusan mengenai lokasi proyek tersebut bakal bergantung pada jenis teknologi yang diadopsi nantinya.
Elen mengungkapkan sejumlah mitra dari Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, dan Rusia telah memperlihatkan minat untuk bekerja sama dalam bidang teknologi nuklir. Sumber daya nuklir dinilai dapat menjadi jalan keluar strategis untuk menyediakan listrik yang andal, bersaing, dan ramah lingkungan demi mendorong industrialisasi.
Langkah penambahan pasokan ini disiapkan untuk merespons lonjakan kebutuhan listrik nasional yang diperkirakan menyentuh angka 600 terawatt hour (TWh) pada 2030, dengan rata-rata konsumsi warga mendekati 2.000 kilowatt hour (kWh) per kapita.
Sumber: Media Indonesia; ANTARA
Artikel ini disusun secara otomatis dengan kecerdasan artifisial berdasarkan sumber yang tercantum, tanpa pemeriksaan redaksi sebelum terbit.