Sumber foto: Okezone AS Berencana Siarkan Langsung Eksekusi Mati Nidal Hasan
2 kali dilihat
WASHINGTON, AktuaNews – Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) mengumumkan rencana penyiaran secara langsung eksekusi mati terpidana penembakan massal Fort Hood, Nidal Malik Hasan, yang dijadwalkan berlangsung dengan regu tembak pada 3 Desember 2026.
Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menyatakan bahwa eksekusi mantan psikiater sekaligus mantan mayor Angkatan Darat tersebut akan digelar secara terbuka. Tindakan tersebut diambil agar masyarakat dapat melihat langsung akibat hukum dari aksi pembunuhan massal di pangkalan militer Texas pada 2009 silam.
“Dia akan menghadapi regu tembak tentara, sebagaimana mestinya, dan kami akan memastikan orang-orang dapat menyaksikannya. Ini akan terbuka untuk publik,” kata Hegseth.
Seorang pejabat Pentagon mengonfirmasi bahwa jalannya hukuman mati akan ditayangkan lewat siaran langsung internet, sementara perincian teknis penyiaran bakal disampaikan menyusul. Pelaksanaan hukuman mati oleh militer ini tercatat sebagai yang pertama dilakukan dalam lebih dari enam dekade terakhir, serta telah memperoleh persetujuan dari Presiden Donald Trump.
Riwayat Kasus dan Tanggapan Hukum
Nidal Hasan dijatuhi vonis mati oleh pengadilan militer pada 2013 atas peristiwa penembakan yang menewaskan 13 orang, dengan 12 korban di antaranya prajurit, serta melukai puluhan orang lainnya. Hasan mengalami kelumpuhan sebagian tubuh seusai tertembak aparat kepolisian sipil yang melumpuhkannya di lokasi kejadian.
Rencana penyiaran hukuman mati menuai tanggapan dari sejumlah pakar hukum di Amerika Serikat. Dosen tamu Yale Law School Eugene R. Fidell menjelaskan bahwa terpidana masih memiliki peluang mengajukan permohonan peninjauan penahanan atau habeas corpus ke pengadilan sipil guna menunda eksekusi.
Pakar hukuman mati dari Fordham University Deborah Denno memandang penayangan terbuka dapat menghadirkan transparansi proses pemidanaan kepada khalayak. Di sisi lain, Wakil Presiden National Institute of Military Justice Brenner Fissell mencatat metode regu tembak kini kerap dilirik sebagai opsi penindakan yang lebih cepat dibanding metode suntik mati.
Sumber: Okezone; Liputan6; Kumparan
Artikel ini disusun secara otomatis dengan kecerdasan artifisial berdasarkan sumber yang tercantum, tanpa pemeriksaan redaksi sebelum terbit.