Seorang warga Palestina memeriksa kerusakan setelah pesawat Israel menyerang sebuah apartemen di lingkungan al-Rimal di sebelah barat Kota Gaza, 3 Oktober 2026. ANTARA/Xinhua/ Rizek Abdeljawad. — Sumber foto: ANTARA Sekjen PBB Desak Gencatan Senjata Permanen di Gaza
2 kali dilihat
Diperbarui 9 October 2026, 17:04 WIB
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres pada Senin (5/10/2026) menyerukan penetapan gencatan senjata permanen di Jalur Gaza menjelang peringatan tiga tahun serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023.
Dalam pernyataan resminya, pimpinan PBB tersebut mendesak seluruh pihak menghentikan pertempuran dan membuka akses bantuan kemanusiaan secara luas. Ia menegaskan pentingnya penghormatan penuh terhadap hukum internasional serta pembentukan jalan politik demi perdamaian yang berkelanjutan.
“Sudah saatnya gencatan senjata menjadi permanen. Sudah saatnya mengizinkan bantuan kemanusiaan dalam skala besar. Dan sudah saatnya menghormati hukum internasional,” kata Guterres.
Ia berharap momentum peringatan tiga tahun perang tidak sekadar menjadi masa berkabung, melainkan menumbuhkan tekad baru agar warga Palestina dan Israel dapat hidup berdampingan secara damai dan aman. Guterres juga mengingatkan penderitaan warga sipil di Gaza yang menghadapi pengungsian, kehancuran, dan hilangnya banyak nyawa.
Korban Jiwa dan Hambatan Perdamaian
Serangan kelompok Hamas pada 7 Oktober 2023 menewaskan lebih dari 1.200 warga Israel dan warga negara asing, serta menyebabkan 251 orang lainnya disandera. Sementara itu, operasi militer balasan Israel di Gaza menewaskan lebih dari 74.200 warga Palestina menurut data Kementerian Kesehatan Palestina.
Guterres menilai kesepakatan jeda senjata singkat yang diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Oktober 2025 sempat memberikan sedikit kelegaan. Namun, kesepakatan tersebut belum menyediakan keamanan yang nyata, bantuan kemanusiaan memadai, maupun jalur pemulihan yang kredibel.
Upaya penghentian perang masih terhambat perbedaan posisi kedua kubu. Israel menolak menarik pasukannya dari Gaza sebelum pelucutan senjata Hamas terverifikasi, sedangkan Hamas menginginkan pelucutan senjata dilakukan bertahap.
Konflik bersenjata tersebut juga meluas ke berbagai front, termasuk invasi militer Israel ke Lebanon selatan menghadapi Hizbullah hingga pertempuran terbuka melawan Iran yang melibatkan Amerika Serikat.
Sumber: Detik; ANTARA; Media Indonesia
Artikel ini disusun secara otomatis dengan kecerdasan artifisial berdasarkan sumber yang tercantum, tanpa pemeriksaan redaksi sebelum terbit.