Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi (kiri) dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov (dua kanan) saat melakukan pertemuan bilateral di sela-sela Pertemuan Menteri Luar Negeri G20 di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, Jumat (30/10/2026). (ANTARA/HO-Kementerian Luar Negeri Rusia) — Sumber foto: ANTARA Jepang Desak Rusia Bebaskan Jurnalis yang Ditahan atas Tuduhan Spionase
0 kali dilihat
ATLANTA, AktuaNews – Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi mendesak Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov agar membebaskan jurnalis asal Jepang yang ditahan atas dugaan spionase saat keduanya bertemu di Georgia, Amerika Serikat, Jumat (30/10/2026).
Jurnalis warga negara Jepang yang bekerja untuk surat kabar Hokkaido Shimbun tersebut ditahan oleh Dinas Keamanan Federal (FSB) Rusia di Pulau Sakhalin sejak 13 Oktober lalu. Pejabat Kedutaan Besar Jepang di Moskow baru dijadwalkan mendapat izin berkunjung pada Senin (2/11/2026).
Pertemuan bilateral di sela-sela agenda menteri luar negeri negara anggota G20 tersebut menjadi pertemuan resmi pertama menteri luar negeri kedua pihak dalam lima tahun terakhir setelah September 2021. Dialog berlangsung di tengah ketegangan hubungan bilateral akibat sanksi Jepang bersama Kelompok Tujuh (G7) terhadap Rusia menyusul perang di Ukraina.
Kementerian Luar Negeri Jepang menyampaikan kedua menteri sepakat tetap menjaga jalur komunikasi di tengah situasi hubungan yang memanas. Dalam pertemuan itu, Motegi meminta Rusia mengambil tindakan demi mewujudkan perdamaian yang adil dan langgeng di Ukraina pascainvasi Moskow pada 2022.
Selain itu, Motegi menegaskan kembali sikap Jepang seputar pulau-pulau di lepas pantai Hokkaido yang dikuasai Rusia. Pemerintah Jepang sebelumnya melayangkan protes atas kunjungan perdana Presiden Rusia Vladimir Putin ke salah satu pulau yang disengketakan tersebut pada Agustus lalu.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan Lavrov menuntut Jepang menghentikan kebijakan tidak bersahabat apabila hendak melanjutkan dialog menyeluruh. Pihak Rusia juga menyebutkan pertemuan menteri luar negeri kedua negara itu terlaksana atas permintaan pihak Jepang.
Artikel ini disusun secara otomatis dengan kecerdasan artifisial berdasarkan sumber yang tercantum, tanpa pemeriksaan redaksi sebelum terbit.